Jeneponto

Film Nasional “de’ TOENG” (misteri ayunan nenek) yang mengambil lokasi di kabupaten Jeneponto hari ini mulai menggelar casting

Sebuah Film Nasional “de’ TOENG” (misteri ayunan nenek) yang mengambil lokasi di kabupaten Jeneponto hari ini mulai menggelar casting untuk pemeran pembantu dalam film tersebut, sabtu (06-04-2018).

Casting film ini sendiri mangambil lokasi di Balla Kopi Turatea mulai tanggal 06-07 April 2018. Sutradara film “de’ topeng” Bayu Pamungkas saat ditanyai perihal film ini menuturkan.
“Ide film ini sebenarnya berawal dari hunting saya 10 bulan yang lalu di Jeneponto untuk mencari sebuah rumah tradisional, kemudian saya dapat rumah di daerah bukit toeng itu, saat itu pemilik rumah menceritakan mitos mengenai penamaan bukit tersebut yang katanya toeng itu kalau dalam bahasa Makassar itu artinya ayunan dan di tempat itu menurut masyarakat sekitar sering terdengar suara ayunan toeng disertai nyanyian khas Makassar atau dikenal dengan royong, jadi mulai bulan ini kami lanjut menggarap dan insyaallah akan kami rilis akhir tahun ini” tutur sutradara film Air Mata Fatimah ini.

Saat ditanyai apa yang menjadi pembeda dari film horor yang digarapnya dengan film-film horor lainnya, Bayu Pamungkas mengungkapkan.
“Kalau film horor lainnya itu banyak menampilkan hantu yang mengganggu manusia, pada film ini kita hanya mengangkat sudut pandang seorang anak dari dokter yang di tugaskan di daerah, anak ini yang mampu berkomunikasi dengan nenek toeng mahluk yang dimitoskan masyarakat setempat, kami lebih akan mengangkat perspektif budaya dan mitologi yang ada pada daerah tersebut, sehingga itulah yang mendorong kami untuk menggelar casting pemeran pembantu disini selain memperkuat karakter dalam film ini kami juga berniat menyerap potensi lokal yang ada di Jeneponto makanya untuk teman-teman yang ingin bergabung silahkan ikut casting mulai hari ini sampai Minggu besok pukul 17.00 wita” ungkapnya.
Sebelumnya diketahui film ini juga melibatkan aktor nasional sebagai pemeran utama

Di tempat yang sama Sasa salah seorang peserta casting saat diwawancara menyatakan rasa bangganya.
“Ini pengalaman saya yang pertama, tentu ada rasa grogi sekaligus bangga karena dapat ikut casting pada film nasional seperti ini, saya juga mengapresiasi casting ini karena telah membuka ruang untuk menggali potensi-potensi lokal di daerah ini, apalagi kata orang filmnya mereka akan memprioritaskan masyarakat disini agar film yang digarapnya lebih mendapatkan karakter asli dari mitos yang di filmkan ini” tutup Sasa.

To Top