Kembali Istri Camat Panakukkang Dapat Kecaman Dari Ikatan Mahasiswa Olahraga Toraya

oleh

MAKASSAR, LINK1SULSEL.COM — Salah satu lembaga kemahasiswaan (eksternal kampus) di kota Makassar. IMORTA (Ikatan Mahasiswa Olahraga Toraya) UNM Makassar mengecam statement ketua PKK Kec. Panakukang yang dimana dalam penyampaiannya dihadapan warga mengandung unsur “SARA”.  Kata Haslinah dalam video yang berdurasi 1.37 menit mengatakan, “Oleh karena itu, saya berharap kalau mau mendapatkan pemimpin yang baik, coblos nomor satu (Appi-Cicu). Saya janji, kalau ibu-ibu mau lurahnya  muslim,  coblos nomor satu. Kita lengserkan yang non muslim”

Atas ujaran istri Camat Panakukkang tersebut Ikatan Mahasiswa Olahraga Toraya, menyatakan sikap yakni mendesak aparat kepolisian untuk segera memeriksa dan menangkap ketua PKK kec. Panakukang Makassar, terkait seruan dan ajakan yang diduga mengandung unsur “SARA” dan telah viral dimedsos.

“Ajakan dari istri camat tersebut sudah menimbulkan polemik atau kegaduhan ditengah-tengah masyarakat kota Makassar, dimana yang kita tahu bahwa tatanan adat istiadat Makassar dan umumnya di Sulsel adalah masyarakat yang majemuk dan punya toleransi yang tinggi dalam bermasyarakat, jadi tidak ada alasan kepolisian untuk tidak memproses oknum pelaku tersebut sesuai hukum yang berlaku, apalagi bukti sudah sangat jelas berupa video rekaman”, ungkap Eko Wahyudi selaku Ketua IMORTA, sabtu (26/5/18).

Lanjut Eko, IMORTA juga mendesak Plt walikota Makassar  agar segera mencopot camat Panakukang.

“Seorang camat adalah sosok yang harus mnjadi panutan di masyarakat, dan yang lebih penting tugas dari camat itu sendiri harus menyampaikan dan mencontohkan hal-hal yang baik bagi warganya, jadi kesimpulannya apabila sosok ketua PKK melakukan hal-hal yang sangat bertentangan dari nilai-nilai ideologi negara, masa masih mau dipertahankan oleh pemerintah, kami tunggu respon dari bapak plt walikota Makassar”, tegas Eko.

IMORTA juga meminta kepada ketua PKK kecamatan Panakukang agar segera meminta maaf seluruh warga kota Makassar melalui media cetak dan elektronik terkait rekaman video yang diduga mengandung unsur “SARA” dalam berkampanye.

“Namun permintaan maaf tersebut bukan berarti lolos dari jeratan hukum UU ITE tentang ujaran kebencian, aparat kepolisian harus segera menangkap agar kejadian ini tidak akan terulang lagi, dan panwaslu kota Makassar segera juga memeriksa kasus ini karena terkait salah satu dari tim paslon nomor urut 1”, tutup Eko. (*)

Loading...