TERINDIKASI KORUPSI, GCW LAPORKAN PROYEK EMBUNG DAN BRONJONG IRIGASI DINAS PUPR SOPPENG

oleh -21 views

MAKASSAR, LINK1SULSEL.COM–Sejumlah proyek Dinas PUPR Kab.Soppeng mendapat sorotan oleh LSM GCW (Global Corruption Watch).
Proyek tersebut meliputi Pekerjaan Embung yang berlokasi di Salo Pottingeng Lalabata yang dikerjakan pada Tahun 2018 dan Pekerjaan Irigasi dan Bronjong yang berlokasi di Pottingeng Lalabata Kab.Soppeng dikerjakan pada tahun 2017.

“Proyek Embung Pottingeng menelan anggaran berkisar 14 Miliar yang anggarannya bersumber dari APBD Kab.Soppeng. Kedua proyek tersebut diduga sarat penyimpangan dan terindikasi korupsi.

Dari hasil investigasi LSM ICW, Diduga dikerjakan tidak sesuai Bestek dan Spek serta Juknis sebagaiman yang tertuang dalam kontrak karena sudah mengalami kerusakan . Kondisi tersebut membuat LSM GCW melaporkan ke pihak Aparat Penegak Hukum yaitu Polda Sulsel Cq. Direktur Reserse Kriminal Khusus.

“Ditemui disalahsatu warkop dibilangan boulevard oleh media, Saprianto Ketua Umum LSM GCW mengutarakan bahwa lembaganya telah melayangkan surat permintaan klarifikasi ke pihak Dinas PUPR Kab.Soppeng namun hingga berita ini dirilis tidak ada tanggapan, Kepala Dinas PUPR yang menjabat saat proyek tersebut berlangsung yaitu Abdillah Basaud saat dikonfirmasi via telepon seluler dan WA nya mengatakan bahwa PPK OP SDA PUPR Soppeng yang paling bertanggungjawab dan berwenang menjawabnya,” Senin (2/12/2019)

“Silakan konfirmasi ke pak Anto PPK kegiatan tersebut, ungkap Abdillah via WAnya”

Lebih lanjut Saprianto menjelaskan ” Tim kami berulangkali melakukan konfirmasi ke PPK kegiatan tersebut, namun telpon dan WA tidak dijawab.

“Terkait kedua proyek tersebut menurut Saprianto diduga dikerjakan tidak sesuai spek dan menyalahi kontrak, saat tim kami melakukan investigasi ke lokasi proyek tersebut beberapa bagian konstruksi embung sudah retak dan mengalami kerusakan, besi untuk safety Ring Embung hanya menggunakan besi Hollow yang tidak bertahan lama akan rusak/ keropos. Material batu diduga diambil dari lokasi proyek, begitu juga pekerjaan Bendungan dan Bronjong sudah mengalami kerusakan parah dan telah ambruk,” tutup Anto

Ditempat yang sama, Hamid Karca Ketua Harian GCW saat dimintai keterangannya menegaskan ” setelah tim investigasi kami turun kelokasi yaitu di Salo Pottingeng, kami melakukan pengambilan dokumen dan baket sebagai dasar kami untuk meminta klarifikasi kepada pihak penyedia dan pelaksana proyek atas dugaan adanya indikasi korupsi.

” Sangat disayangkan proyek tersebut yang menelan anggaran puluhan miliar namun kualitasnya sangat buruk, sudah mengalami kerusakan , seyogyanya sebuah konstruksi dalam Undang-undang jasa konstruksi harus mampu bertahan hingga minimal 10 tahun “pungkas Karca

Kami telah merilis surat pelaporan ke pihak APH sebagai bentuk pengawasan terhadap pembangunan yg menggunakan keuangan negara yang bersih,jujur, bebas KKN. Selanjutnya laporan tersebut akan kami kawal,” tutur Karca”.

Loading...